Perempuan Bertudung Cahaya

Perempuan Bertudung Cahaya

Kiprah Bu Anis menyingkap betapa Bangganya Menjadi Perempuan

oleh Chairil Anwar ZM

bu anis

Di suatu siang yang terik, seorang gadis kecil berusia 10 tahun berperawakan tomboy tampak berwajah muram keluar dari ruang kelasnya bersama teman-temannya. Sang ibu yang sudah sedari tadi menunggunya di halaman sekolah dengan wajah riang menyambutnya. Tapi gadis kecil itu tetap saja muram dan naik ke jok motor ibunya begitu saja. Lalu sang ibu menghidupkan motornya dan membawanya melaju meninggalkan sekolah berlabel agama di tengah kota Yogyakarta itu.

Di tengah perjalanan, sang ibu tiba-tiba membelokkan motornya ke warung bakso kesukaan anaknya. Sambil memesan bakso, mata sang ibu melirik kearah anak bungsunya itu. Bakso pun disajikan dan lalu mereka santap dengan lahap. Setelah ritual singkat itu usai, sang ibu mendekatkan diri sembari melayangkan tangannya ke pundak anaknya itu.
Dengan suara lembut, sang Ibu bertanya, “Putriku yang cantik, ada apakah gerangan sehingga engkau hari ini tampak cemberut seperti itu? Nggak biasanya nih. Ceritakanlah, Ibu akan dengan senang hati mendengarkannya.”
Wajah kusutnya sedikit memudar. Lalu si anak pun bercerita tentang kekesalannya pada gurunya yang marah-marah padanya di hadapan teman-temannya karena ia bermain sepakbola di halaman sekolah bersama teman-teman laki-laki lainnya. Dengan memakai dalil-dalil agama yang “menakutkan” dan alasan-alasan yang kurang masuk akal (antara lain mengatakan bahwa sepakbola wanita adalah budaya Amerika, bukan budaya Islam) sang guru melarangnya bermain layaknya laki-laki. Si anak pun memberi berbagai macam alasan yang masuk akal, tapi sang guru tetap saja keukeuh dengan pendapatnya bahwa hal semacam itu “tidak pantas” dilakukan oleh perempuan. Pendek kata, hanya laki-laki yang boleh melakukannya.
Di sekolah dan di rumah, gadis kecil bernama lengkap Tyas Fitri Kurnia yang akrab dipanggil Tyas ini memang terkenal tomboy. Dia menyukai hal-hal yang disukai dan biasa dilakukan anak laki-laki sebayanya. Misalnya, bermain sepakbola, memancing, memanjat pohon, dan bermain layang-layang. Bahkan ia tak jera kendati suatu saat tetangganya marah-marah karena bola yang ditendang Tyas mengenai kaca rumah tetangganya itu dan berhasil memecahkannya. Ia juga tidak suka memakai jilbab. Tak hanya itu, suatu ketika—mungkin lantaran kerap melihat dan mengikuti apa yang dilakukan ibunya sehari-harinya—ia pernah meresahkan betapa berat dan tidak enaknya menjadi seorang perempuan: dia harus melahirkan, menyusui, memasak, dan melakukan hal-hal berat lainnya. “Aku ogah jadi perempuan!” ledaknya waktu itu.
Selesai menyimak cerita dari buah hatinya tentang kekesalannya kepada gurunya, sang ibu kemudian lantas memberinya pemahaman dengan cara menceritakan beberapa kisah tentang hebatnya perempuan dengan nada obrolan dan tanpa kesan menggurui. Sejauh ini dia memang sudah sangat memahami karakter dan tingkah polah anaknya.
Sang ibu mengatakan bahwa anaknya ini seharusnya sangat bangga menjadi perempuan. Perempuan dikaruniai begitu banyak keistimewaan dalam dirinya. “Hampir semua hal yang dilakukan laki-laki itu bisa dilakukan oleh perempuan, tapi tidak semua hal yang bisa dilakukan oleh perempuan itu bisa dilakukan oleh laki-laki.” katanya. “Kalau Ayah bisa mengendarai mobil, maka Ibu pun tak butuh waktu lama bisa mengendarai mobil. Kalau ada laki-laki yang bisa jadi polisi, perempuan pun bisa menjadi polisi wanita. Sebaliknya, apakah Ayah bisa hamil, melahirkan, dan menyusui seperti yang dilakukan Ibu?” Si bungsu tampak takjub.
Dia menambahkan, banyak perempuan yang berjasa bagi dunia.
“Jangan heran kalau ada istilah “ibukota”, nggak ada istilah “bapak kota”. Ada istilah “ibu pertiwi”, nggak ada itu istilah “bapak pertiwi”. Ada istilah “buku induk”, nggak ada istilah “buku jantan. Dan istilah-istilah tentang wanita lainnya.” Anaknya dibuat terkekeh-kekeh mendengarnya.
Akhirnya sang ibu bilang, “Makanya, di saat nanti sudah dewasa, sudah menstruasi, organ-organ dalam tubuhmu yang berbeda dengan laki-laki itu wajib kamu lindungi supaya kamu bisa hamil, melahirkan, dan menyusui anakmu, anak yang akan menjadi generasi penerusmu kelak.” Mendengarkan kata-kata pamungkas ini, si anak tampak takluk dan terlihat rona bangga dari wajahnya.
Sang Ibu yang penulis ceriterakan dan yang menjadi tokoh utama dalam tulisan ini tak lain bernama Anis Farikhatin. Ia biasa disapa dengan panggilan Bu Anis. Begitulah, dalam menghadapi persoalan yang dihadapi anak-anaknya—seberat apa pun itu, ia biasa menyelesaikannya dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Dan yang menjadi ciri khasnya adalah bahwa ia menyelesaikannya dengan cara “menunjukkan”, bukan “menasehati” atau “memberitahu”.
Menurutnya, cara “menunjukkan” bersifat fasilitatif. Si anak ditunjukkan kisah-kisah nyata yang berkaitan erat dengan kisah yang dialaminya sendiri. Dengan demikian si anak akan dapat memahami bahwa terjadinya sesuatu itu ada kausul atau sebab musababnya dan ada pula akibatnya. Ia dapat memahaminya dengan suka rela sampai-sampai dia tidak menyadari telah mengetahui baik buruk sesuatu tanpa merasa digurui oleh ibunya.
Berbeda dengan “menasehati” atau “memberitahu”. Apabila menyelesaikan persoalan anak dengan cara menasehati, maka yang terjadi adalah keengganan dari si anak untuk mendengarkannya. Pasalnya, si anak akan merasa digurui – inilah yang paling tidak disukai anak-anak.
Begitu juga hal demikian ia terapkan pada anak perempuannya yang sudah beranjak dewasa yang suatu ketika bertanya padanya tentang arti pentingnya pacaran. Maka Bu Anis yang mengajar di sekolah menengah swasta ini pun menceritakan suatu kisah yang menimpa siswa nya sendiri di sekolah. Ia bercerita bahwa ada siswanya yang berpacaran tanpa batasan dan norma-norma. Sehabis sekolah, mereka biasa berboncengan dengan motor si gadis. Mereka biasa pergi ke suatu tempat untuk berkencan. Tiga bulan kemudian, si gadis itu pun “habis” karenanya. Ia memberikan apa saja yang diminta laki-laki itu, tanpa terkecuali keperawanannya. Itu pun kemudian ia terpaksa melakukannya berulang kali karena si lelaki itu terus memaksa dan mengancam akan membeberkan hubungan mereka pada teman-teman terdekatnya dan kepada orang yang nanti akan menjadi suaminya.
Si korban itu menangis tersedu-sedu di pangkuan Bu Anis dengan tangan yang panas dingin saat ia menceritakan segalanya yang dialaminya bersama cowok yang tidak bertanggungjawab itu. Kala itu Bu Anis pun meyakinkannya bahwa dia tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun dan berjanji untuk bilang kepada kedua orangtuanya dan menjamin akan menjelaskan baik-baik kepada orangtuanya sehingga mereka mau mengerti dan tidak akan memarahinya. Walhasil, orangtua gadis itu mau menerima dan, atas saran Bu Anis, si gadis kemudian diajak ibunya untuk pindah ke sekolah lain di luar Jawa agar tidak trauma. Sementara itu, lelaki yang tak bertanggung jawab itu kemudian diringkus oleh polisi setelah dilaporkan oleh orangtua korban.
Kepada anaknya, lebih jauh soal pacaran, Bu Anis mengatakan bahwa pada kebanyakan anak laki-laki seusia SMA atau yang baru beranjak dewasa, tak sedikit pun terlintas dalam pikiran mereka untuk menuju jenjang pernikahan dalam menjalin hubungan dengan teman wanitanya. Mereka berhubungan berpacaran hanya untuk gengsi-gengsian, having fun, atau untuk dianggap “laki-laki” dan gaul.
Menurutnya, ketika musibah akibat dari hubungan tidak sah itu terjadi, kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Dalam hal ini, ada beberapa pihak yang bisa disalahkan. Pertama, si gadis bersalah karena ia tidak menghindar ketika diajak berpacaran dengan laki-laki. Kedua, orangtua bisa disalahkan karena tidak memberi perhatian yang intensif pada anak gadisnya. Yang ketiga adalah kesalahan si gadis yang tidak berhati-hati dalam memilih teman. “Siapa yang bisa menghargai perempuan selain dirinya sendiri?” tambahnya.
Untuk diketahui, perempuan kelahiran Pati, Jawa Tengah 44 tahun yang lalu ini sejak SMA sudah bergiat di berbagai macam organisasi. Untuk saat ini saja, ia aktif di enam organisasi besar di Yogyakarta. Enam organisasi itu adalah (1) Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), di sini ia memberi pelatihan dan penguatan partisipasi perempuan di ranah publik, (2) PKBI (Paguyuban Keluarga Berencana Indonesia), dia berperan memberi pelatihan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seks bagi remaja, (3) Dian Interfidei, dia membangun kebersamaan dan kerjasama dengan guru lintas agama, (4) Pengurus MGMP PAI, sebuah perkumpulan guru mata pelajaran Agama Islam di Kota Yogyakarta, (5) Pengurus AGPAI (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam) Propinsi DIY, (6) Menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia Yogyakarta. Selain aktif di enam organisasi itu, ia juga aktif menjadi instruktur Outbound for Kids and Family dan tak jarang diminta untuk menjadi pembicara di pelatihan, workshop, talkshow di TV, dan pengajian ibu-ibu.
Dengan seabreg kegiatannya –sepertinya waktu 24 jam tidaklah cukup untuk kegiatannya–dia selalu meluangkan waktunya untuk bercengkerama dan bercanda dengan suami dan anak-anaknya. Baginya, keluarga dan idealismenya adalah segala-galanya. “Mereka adalah inspirasi terbesar dalam hidup saya. Karena dari sinilah kesuksesan seseorang ditentukan.” katanya mantap. Atas dasar itulah pada tahun 1980-an ia pernah menolak untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil di Pengadilan Agama dan menjadi guru Bahasa Jawa, padahal Surat Keputusan (SK) Kepegawaian sudah di tangan. Ia beralasan, menjadi guru Bahasa Jawa dan Hakim bukanlah bagian dari idealismenya dan ia tidak mau apabila suatu saat ditempatkan di luar Jawa yang mana dia harus berjauhan dari suami dan anak-anaknya yang masih kecil waktu itu. Ia malah kemudian lebih memilih untuk menjadi guru swasta di SMP dan SMA swasta di Yogyakarta karena jadwalnya fleksibel dan bisa dia atur.
Bu Anis sangat sadar bahwa fungsi ibu atau orangtua adalah memberikan motivasi dan memberikan fasilitas yang terbaik buat anaknya. Maka, ia selalu dengan senang hati dan penuh simpatik mendengarkan keluh kesah anak-anaknya untuk kemudian memberikan pemecahan-pemecahannya. Ibu tiga anak ini juga tidak segan-segan memberikan apa saja untuk agar anak-anaknya berpendidikan sampai tingkat tertinggi dan memperoleh kesejahteraan yang layak kendati itu harus ia lakukan dengan berhutang atau pun kredit.
Dalam keluarga, dia juga menerapkan keteladanan pada anak-anaknya. Sebab, baginya, keteladanan adalah faktor terpenting dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak-anaknya. Salah satu contoh di antaranya, semenjak setelah melahirkan anak ketiganya sampai sekarang, Bu Anis membiasakan dirinya untuk menunaikan puasa tiap hari Senin dan Kamis. Walhasil, ketiga anaknya sekarang ini pun menjadi terbiasa untuk melaksanakan puasa sunnah itu tanpa merasa harus disuruh oleh ibunya.
Namun demikian, dengan berjubelnya kegiatannya baik di luar maupun di dalam rumah itu, Bu Anis tetap saja bisa berprestasi di bidang akademisnya: dia selalu terbaik di sekolahnya, dia bisa tamat S2 dalam waktu 29 bulan! Sebuah capaian yang tidak semua orang bisa melewatinya. Buah manis lainnya, anak-anaknya meraih prestasi terbaik di sekolah mereka masing-masing, bahkan anaknya yang kedua – Hanan Waskitho– sering kali memenangkan berbagai macam lomba baik pada tingkat regional maupun nasional.
Terakhir, perkenankan penulis untuk menyisipkan satu puisi sederhana yang penulis gubah untuk Bu Anis dan perempuan-perempuan perkasa lainnya:
Perempuan Perkasa
yang Setia pada Waktu

Wahai engkau
perempuan perkasa
yang selalu setia pada
deru degup kencang Sang Waktu
yang memburu

gaun bianglala yang
kau pakai seharian itu
sepertinya tak akan pernah
lusuh ditelan keruh senja

mahkotamu cahaya berkerudung melati
semerbak harum kasturi
langkahmu tegak menantang sara
menapaki tangga langit impian
hingga bertengger menggenggam
puncak cakrawala

senyummu adalah hidup
rasa sedih adalah sahabat karib yang selalu kau bimbing
untuk tak kerap mengusik mimpi indahmu

suatu waktu kutanya padamu
tentang cinta
“Akulah Cinta!” tegasmu

Kau pun bercerita bahwa bersama keluargamu kau telah akan
berjuang membangun Kuil Cinta di sepetak tanah harapan
meski darah mengucur resah badan

Waktu banyak orang termasuk aku mencari-cari
kasih sayang di setiap sudut bumi,
dengan suara lembut kau berbisik memberi tahuku
“Ssst… tak perlu kemana-mana,
akulah yang kau cari”

Lalu dimana Damai?
“Ia akan muncul saat kau menjelma aku”
Bagaimana agar aku mendapatkanmu?
“Memberi dan memberi dan memberi
Bukannya mencari-cari dan berharap menerima.”
Yogyakarta, 2007-2009

(chairil zm–tulisan ini diikutkan dalam lomba amazing moms yg diadakan Sekolah Kehidupan Tangerang dan alhamdulillah dapet juara bontot (harapan III)

5 Tanggapan

  1. Subhanallah, salam doa buat Bu Anis danpenulis. Saya jadi terharu dan teringat dengan Ibu saya sendiri. Mudah2an saya bisa lebih menghargai peran wanita sdan jasa2 seorang ibu, setelah membaca tulisan ini.

    • Terimakasih doanya…sama2 mendoakan smoga saya pun tdk lupa barang sedetik pun kebesaran jiwa ibu2 kita, terlebih ibu kandung kita. semoga Allah menganugerahi sosok2 yang mengikhlaskan hidup mereka utk kebesaran anaknya di surga-Nya. amin

  2. Andai di maknai oleh para laki-laki…

    • Andai saja di makanai pula oleh perempuan seperti Aulia Kornelia (att: Face Book). Bahwa masing-masing makhluk (Laki-laki maupun Perempuan) di beri peran dan tanggungjawab masing-masing dengan diberikan banyak kelebihan tanpa harus mediskriditkan kelebihan satu dengan yang lain yang jelas berbeda. Kita pasti membutuhkan kerjasama yang kompak.

      • Saya sepakat itu. keberadaan tulisan ini pun tidak kemudian menafikan peran penting lelaki. keduanya yang diciptakan berbeda hadir di dunia untuk membentuk keharmonisan yang saling melengkapi satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: