Kekerasan Terhadap Anak (KTA)

Fenomena kekerasan terhadap anak (KTA) belakangan ini menyita perhatian yang serius. Sehingga, sampai-sampai tidak hanya kalangan swasta saja, terutama kalangan LSM, tetapi juga Pemerintah ikut prihatin. Pemerintah telah membuat Undang-undang Perlindungan Anak dan membentuk lembaga Komnas Perlindungan Anak (KPA). Langkah ini tentu saja sebagai wujud upaya untuk mengantisipasi kasus-kasus KTA yang kian lama angkanya bukannya turun, tetapi sebaliknya, malah menunjukkan angka peningkatan yang signifikan.

Istilah “anak”, mengandung pengertian sebagai sosok yang hidup dalam lingkungan rumah tangga, yang di dalamnya ada anak dan orangtua mereka. Maka ketika berbicara tentang “kekerasan terhadap anak”, KTA, maksudnya di sini adalah kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orangtua mereka, ayah mereka, ibu mereka, atau kedua-duanya. Bisa juga tindak kekerasan ini dilakukan oleh orang lain (selain orangtua mereka), tetapi tetap di lingkungan rumah, misalnya paman atau bibi mereka, kakek atau nenek mereka sendiri, dst. Selain itu, “anak” juga bisa merujuk pada sosok yang ada di lingkungan sekolah. Sehingga, yang dimaksud “kekerasan terhadap anak” di sini juga tidak semata berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, tetapi juga bisa dalam konteks interaksi pendidikan. Persisnya, kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya, atau anak didiknya.

Menurut definisi mayor, anak adalah sosok manusia yang belum dewasa, sedangkan seseorang dikatakan dewasa ketika umurnya minimal 18 tahun, atau jika ia sudah menikah. Dengan kata lain, secara umum, seseorang bisa disebut masih kanak-kanak jika maksimal duduk di bangku kelas 3 SMU. Setelah melewati usia 18 tahun, biasanya seseorang sudah dikatakan dewasa; bahkan jika sudah menikah, meski belum 18 tahun, tentu saja sudah masuk kategori dewasa. Ia sudah boleh mencoblos dalam momen Pemilu, karena sudah diperkenankan membuat KTP.

Yang dimaksud kekerasan di sini adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Kekerasan fisik, berupa tindakan menyakiti si anak, dengan cara apa pun (bisa juga memakai bendak-benda tajam), yang membuat tubuhnya terluka, mental dan batinnya menjadi trauma atau shock, bahkan bisa juga berujung pada kematian. Sedangkan kekerasan psikis, adalah berupa kata-kata, perlakuan, ataupun sikap yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan kejiwaan dalam diri si anak, misalnya jadi merasa inferior, kurang PD, tertekan, trauma, dan semacamnya. Sedangkan kekerasan seksual, yakni tindak pelecehan seksual atau pencabulan terhadap anak, baik dalam skala berat ataupun ringan, yang mengakibatkan anak mengalami shock ataupun trauma terkait seksualitas, inveksi pada organ-organ seks, atau bahkan mengalami kehamilan.

Secara khusus, tulisan ini akan membahas masalah kekerasan fisikal terhadap anak, dengan sudut pandang keagamaan (Islam).

Faktor Budaya

Pertanyaan penting yang pertama bisa diajukan adalah, mengapa sampai bisa terjadi tindak KTA; baik itu di rumah ataupun di sekolah? Rumah, misalnya, seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan anak, karena di sanalah anak “merintis” kehidupannya untuk pertama kali, mendapat pendidikan dan pengalaman tentang hidup sejak awal, dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dan terikat secara biologis, psikologis, dan emosional. Akan tetapi, yang jadi pertanyaan, mengapa tempat yang harusnya menjadikan anak merasa nyaman justru menjadi tempat yang mengerikan dan horor buat dirinya?

Secara umum faktor budaya banyak disinyalir menjadi pangkal dari praktik KTA ini. Ada, misalnya, semacam pandangan tradisional yang menyatakan bahwa “anak adalah milik orangtua”, yang dengan kata lain anak tak ubahnya harta kepunyaan. Karena merasa memiliki, lantas para orangtua (tentu saja oknum dalam hal ini) merasa bisa melakukan tindakan apa pun terhadap miliknya tersebut, sebagaimana dia (orangtua) juga bersikap ataupun bertindak apa saja sekehendaknya terhadap benda-benda milik pada umumnya: menelantarkan, merusak, atau malah melenyapkannya sama sekali. Banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga mengalami stres, shock berat, trauma, cacat permanen, atau bahkan meregang nyawa.

Selain pandangan tradisional, budaya kekerasan (violence) yang berkembang dalam masyarakat juga berpengaruh besar. Praktik, teladan, atau perilaku kekerasan yang dipertontonkan oleh aparat (misalnya: oknum polisi yang menyiksa dalam proses penyidikan), media cetak atau elektronik (berita-berita kriminal, cerita atau film yang menonjolkan kekerasan), jelas ikut berkontribusi dalam “mengarahkan” tindakan para orangtua untuk melakukan hal yang sama (kekerasan). Karena kekerasan menjadi sesuatu yang terus “menggejala”, maka walhasil menjadi semacam culture, sehingga secara bawah-sadar sedikit demi sedikit, lama kelamaan, masyarakat menganggapnya sebagai kelumrahan atau kewajaran yang tak perlu dipermasalahkan. Apalagi jika kemudian praktik KTA berlindung di balik jubah “dalam rangka pendidikan”, “dalam rangka pendisiplinan”, dan sejenisnya. Padahal, atas nama apa pun dan demi alasan apa pun, kekerasan terhadap anak tidak seyogianya terjadi, dan atas nama hukum pelakunya harus dibersi sanksi sesuai aturan atau hukum yang berlaku.

Islam Memandang Anak sebagai Amanah

Agama Islam menempatkan anak dalam posisi yang sakral. Anak disebut sebagai amanah (titipan) Allah. Dengan kata lain, anak sesungguhnya bukan milik kita, tetapi milik Allah yang dititipkan kepada kita (orangtua biologisnya). Kita tidak boleh bertindak sekehendak kita terhadap “harta titipan” Allah ini. Kita tentu tidak ingin dimasukkan dalam golongan orang-orang khianat, (hanya) karena kita tidak bisa bersikap baik kepada anak-anak kita.

Hanya dengan sikap terbaik kepada anak-anak kita, maka kehadiran dan keberadaan mereka bukan saja sebagai pelipur hati (qurrata a’yun) dalam kehidupan kita di dunia, tetapi juga sekaligus menjadi ‘jalan’ bagi kita (orangtua) untuk menggapai surga Allah—sebagai balasan kepada kita karena telah memperlakukan titipan Allah itu dengan sikap dan cara yang terbaik. Sebaliknya, jika kita bersikap buruk terhadap anak kita, maka dalam perkembangan selanjutnya di kemudian hari; ketika dia besar kelak, dia anak menjadi “neraka” dalam kehidupan duniawi ini. Dalam artian, misalnya, ketika kita tidak memberi pendidikan yang baik kepadanya saat dia kecil, maka tentu saja ketika besar dia hanya akan menjadi masalah bagi orangtuanya. Dan tidak hanya di dunia ini, di akhirat pun besar kemungkinan si anak justru akan “menerakakan” kita, orangtuanya. Sebab, jika dia selama hidupnya menjadi pendosa, maka orangtuanyalah yang pertama-tama Allah mintai pertanggungjawaban, dengan pendasaran pada sebuah klausul penting, sekali lagi: anak adalah amanah atau titipan dari Allah. Jika kita bisa menjaga amanah dengan baik, maka ganjaran besar menanti kita di sisi-Nya. Jika kita tidak bisa menjaga amanah dengan baik, maka sungguh siksa Allah sangat pedih.

Sikap yang terbaik bukan hanya mencakup pemenuhan kebutuhan fisikal, seperti sandang pangan, kesehatan, sarana-sarana fisik (bermain), dan sejenisnya, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan yang menunjang peningkatan intelektualitas serta pembentukan karakter sikap dan perilakunya di masa depan, yang akan memberi manfaat bagi diri, keluarga, serta lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, sikap terbaik kita kepada anak-anak kita bukan sebatas dijabarkan dalam bentuk memfasilitasi apa saja yang menjadi kemauan anak—selagi itu baik dan positif—menyangkut kebutuhan-kebutuhan material-fisikal dia terkait dunia kekanak-kanakannya, akan tetapi lebih dari itu bagaimana memberikan pendidikan, perlakuan, serta teladan yang baik lagi memadai kepadanya, entah itu melalui sekolah (oleh para guru), lingkungan sosial-masyarakat (warga masyarakat), maupun keluarga di rumah (orangtua), yang akan menghampirkannya pada pencapaian keunggulan intelektual serta karakter moral yang luhur.

Islam Mengajarkan Rahmah

Sekali lagi, yang akan dibincangkan di sini adalah kekerasan terhadap anak (KTA) yang bersifat fisikal. Dalam hal ini, cakupannya mungkin bisa mencubit, menampar, memukul, melukai dengan senjata tajam (menusuk, menyayat, dst), bahkan mungkin sampai membunuh (na’udzubillah).

Dalam konteks nilai hak-hak asasi manusia (HAM) yang berbasis pada humanisme universal, kekerasan macam apa pun, serta dengan alasan apa pun, terhadap anak tidak diperbolehkan. Setiap anak harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan, karena KTA akan mengganggu pertumbuhan fisik dan kejiwaannya secara normal. Itulah alasannya kenapa perlu UU Perlindungan Anak, Komnas Perlindungan Anak, dan sejenisnya, karena tidak lain tujuannya adalah, salah satunya, untuk melindungi anak dari gangguan-gangguan sosial yang akan mencemari perkembangan fisik dan mentalnya.

Yang menarik, Islam dalam hal ini memiliki keberpihakan yang kuat pada gagasan tersebut. Ini setidaknya dengan melihat rujukan-rujukan tradisi Islam, baik dalam ajaran al-Qur’an maupun praktik Nabi Saw, para sahabat, ulama, dst, hal mana tidak ada satu pun yang merekomendasikan tindak kekerasan terhadap anak, jika itu dalam konteks urusan atau masalah keduniaan, muamalah (hubungan antar manusia). Dengan kata lain, dalam soal-soal terkait bidang muamalat (non-ubudiah), orangtua, guru, tidak diberi ruang sama sekali oleh Islam untuk menempuh pendekatan kekerasan terhadap anak-anak. Sebaliknya, yang perlu dikedepankan adalah cara-cara yang makruf serta jauh dari anasir kekerasan.

Bahkan, dalam kosmologi Islam, tingkat atau kualitas kebaikan perlakuan kita kepada anak-anak kita, akan berbanding dengan tingkat atau kualitas rahmah (kasih sayang) Tuhan kepada kita (orangtua). Islam mengajarkan, agar setiap anak berdoa kepada Allah, “Tuhanku, ampunilah dosaku, juga dosa kedua orangtuaku, dan kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kanak-kanak(Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira). Kata-kata “dan kasihilah mereka berdua” dalam doa tersebut jelas sekali memakai kata warhamhuma, dari wa (dan), irham (kasihilah), dan huma (mereka berdua), di mana kata irham merupakan bentuk amar (perintah) dari kata kerja rahima-yarhamu (mengasihi), dengan kata dasar (mashdar)-nya adalah rahmah (kasih sayang). Dengan ungkapan lain, di sini si anak memohon kepada Tuhan, kiranya kedua orangtuanya (baik masih hidup atau sudah mati) diberi rahmah (kasih sayang) oleh Allah, setingkat atau sebanding (kama) dengan rahmah yang mereka berikan semasa mendidik, mengasuh, dan menggembleng (rabbaya) anak-anaknya ketika masih kecil (shaghira, shighara).

Semua orangtua pasti menyayangi anak-anaknya. Dengan kata lain, pastilah setiap orangtua di dunia ini mencurahkan rasa dan sikap rahmah mereka kepada anak-anak yang mereka lahirkan dengan cucuran darah dan airmata itu. Akan tetapi, seberapa jauh dan seberapa besar kualitas rahmah (kasih sayang) mereka, tentu berbeda antara orangtua satu dengan yang lain. Besar kecil kualitas kasih sayang itulah yang akan menentukan besar kecilnya rahmah Allah kepada mereka, sebagai ijabah atas doa yang dipanjatkan oleh anak-anak mereka kepada-Nya.

Maka, logikanya, para orangtua yang tidak memberikan banyak kasih sayang kepada anak mereka, tetapi hanya sedikit saja—dan selebihnya kekerasan (na’udzubillah), atau malah tidak pernah memberikan kasih sayang sama sekali dan malah hanya kekerasan saja (Masya Allah!), tidak perlu banyak berharap, atau tak usahlah berharap, akan memperoleh kasih sayang dari Allah sama sekali, baik di dunia maupun di akhirat. Karena, alih-laih, bisa jadi si anak—karena didasari kebencian akan sikap keji orangtua—malah enggan atau tidak sudi sama sekali untuk sekadar mendoakan kedua orangtuanya; sebaliknya, na’udzu billah, si anak bisa-bisa malah mengutuk kedua orangtua mereka.

Islam Membolehkan KTA, akan tetapi…

Benar, bahwa Islam sebagai agama mentoleransi kekerasan terhadap anak. Tidak sebatas membolehkan, menganjurkan, bahkan mengharuskan KTA. Akan tetapi, kekerasan yang bagaimana dulu? Dalam hal ini, kekerasan yang dimaksud adalah kekerasan yang beralasan dan ada batasannya.

Penjelasan akan hal ini terkait dengan keterangan sebelumnya. Tadi dikatakan di atas bahwa jika dikaitkan dengan kepentingan duniawi, muamalat (non-ubudiah), maka tidak ada sedikit pun ruang bagi praktik atau tindak KTA. Artinya, dalam soal menyangkut kepentingan duniawi atas diri anak-anak, maka kita tidak dibenarkan melakukan KTA. Sebagai misal, anak malas belajar, malas sekolah, nakal kepada adiknya, dan sejenisnya, maka memberi sanksi kekerasan fisikal tidak bisa dibenarkan. Yang dibenarkan adalah cara-cara yang penuh hikmah (kearifan), maw’izhah hasanah (nasihat akan nilai-nilai, norma), atau mujadalah billati hiya ahsan (dialog argumentatif). Bisa juga dengan cara-cara yang lain, yang didasarkan pada ilmu-ilmu komunikasi, psikologi, dan semacamnya, tidak harus berparadigma agama, karena dalam memecahkan soal keduniaan, otoritasnya penuh diberikan kepada manusia (hadis Nabi Saw: Antum a’lamu bi-umuri dun-yakum). Yang penting, sekali lagi, pendekatannya adalah rahmah (rasa kasih sayang); artinya bahwa tujuan treatment kita terhadap anak-anak kita yang “bermasalah” adalah semata-mata sebagai wujud rasa belas kasih, rasa sayang kita kepada mereka sebagai anak-anak kita, yang akan menjadi permata kita di dunia dan akhirat. Dengan kata lain, bahwa tujuan dasarnya tentu demi kebaikan bersama, terutama anak-anak kita itu, di dunia dan di akhirat.

Jika menyangkut hl ihwal keduniaan (muamalat) tidak dibolehkan KTA, maka sebaliknya, dalam soal ubudiah, pengabdian ilahiah, yang berorientasi kepentingan ukhrawi, kekerasan terhadap anak (KTA) justru dimungkinkan, bahkan sangat ditekankan. Namun, tentu saja, KTA ini adalah jalan terakhir, setelah sentuhan kearifan (hikmah), nasihat normatif (maw’izhah hasanah), serta dialog argumentatif (mujadalah bilati hiya ahsan) tidak mempan dalam sanubari anak. Kasus yang diangkat dalam hal ini adalah masalah pelaksanaan salat. Kenapa salat? Karena ia adalah tiang agama, sehingga pelaksanaannya adalah wujud penegakan agama. Selain itu, salat juga pembatas antara keimanan dan kekafiran, sehingga pelaksanaan salat adalah ekspresi loyalitas keagamaan. Islam mengajarkan, sebagaimana disabdakan Nabi, jika anakmu sudah berusia 10 tahun dan tidak mau salat, maka pukullah, dan (baca: tetapi) pukullah di bagian pantat.

Hadis ini sangat menarik jika direnungkan hikmahnya, karena menunjukkan keluhuran agama Islam. Pertama, batas kebolehan melakukan kekerasan terhadap anak adalah jika sudah berusia 10 tahun. Jadi jika belum 10 tahun, untuk alasan apa pun, KTA tidak dibolehkan sama sekali. Kedua, hanya dimungkinkan jika alasannya adalah karena menyangkut hal yang prinsip, yakni “meninggalkan salat” yang nota bene merupakan tiang agama dan bukti loyalitas keagamaan. Artinya, meski si anak sudah 10 tahun, dan pelanggarannya bukan menyangkut masalah prinsip dalam keberagamaan (baca: salat), tindak kekerasan tetap tidak ditoleransi. Ketiga, kekerasan hanya dimungkinkan pada bagian tubuh anak yang tidak vital (misalnya: bokong). Jadi, kalau sampai memukul pada bagian yang vital, misalnya kepala, perut, wajah, telinga, hidung, dan sejenisnya, jelas sekali terlarang dalam Islam.

Khatimah

Sesungguhnya, betapa indah pendekatan Islam dalam menyikapi soal kekerasan terhadap anak, baik kekerasan yang tak berasalan (karena faktor orangtua), ataupun karena suatu alasan (pelanggaran anak). Visi Islam menjadi sangat jelas, bahwa anak adalah amanah, titipan Allah yang harus dijaga; bahwa masa depan anak perlu dipersiapkan dengan sebaik mungkin, baik secara fisik maupun mental, sehat jiwa dan raga, karena “mereka akan menghadapi zaman yang bukan zaman kita” (hadis riwayat Ibnu Majah). Sedikit saja kita salah dalam mendidik anak-anak kita, baik menyangkut cara atau metodenya, maupun pendekatannya, kemudian juga salah dalam memperlakukan anak-anak kita, maka ketahuilah, bahwa taruhannya adalah masa depan mereka kemungkinan besar akan “mengkhawatirkan”, sebagaimana disiratkan dalam QS al-Nisa’: 9: “Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya mewariskan sepeninggal mereka generasi yang lemah, yang mereka sangat khawatir akan kelangsungan hidup mereka…Wallahu a’lam. []

Gus Broer, eksponen [asrama] SPA 1994-2004 http://www.gusbroer.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: