NITENI NIROKE NAMBAHI

Culun yang duduk di bangku kelas 5 SDIT di bilangan Maguwo tengah sibuk mengerjakan ujian Matematika, sampai pada materi soal pecahan bilangan dia terlihat cemas dan gerak-geriknya mencurigakan, matanya yang serius menatap soal hitungan tersebut tiba-tiba menjadi juling. Dengan berusaha semaksimal mungkin meminimalisir gerakan yang kira-kira mengundang perhatian guru pengawas dia hindarkan, meski sedikit bersusah-payah pada akhirnya dia berhasil mendapatkan jawaban dari seorang teman sebelahnya Sumarti yang diyakini kebenarannya karena terkenal pintar dikelasnya dalam hal ujian Matematika.

Begitupula di ujian-ujian matapelajaran berikutnya, Culun berusaha semaksimal mungkin untuk bisa duduk bersebelahan dengan teman yang pintar di bidangnya.

Setelah melampaui beberapa tahapan tingkat sekolah mulai SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi sekalipun ternyata kebiasaannya tersebut tidak berubah. Dirinya meyakini bahwa sekolah hanya batu loncatan semata dalam meraih prestasi. Sehingga apapun penilaian seorang tenaga pengajar yang mengatakan bahwa dirinya adalah pecontek ulung merupakan stempel yang tak pernah Culun pedulikan. Dirinya hanya tahu bagaimana bisa naik peringkat dengan nilai sebaik-baiknya.

Lain Culun lain pula halnya Hones, mahasiswa yang satu ini sejak duduk di bangku SD sampai Perguruan Tinggi, sangat jarang mencontek karena dirinya tidak mau dianggap sebagai siswa yang tidak jujur dipandangan guru maupun teman-teman setingkatnya. Sehingga walaupun hasil ujian diperolehnya dengan buruk, Hones merasa puas meski pernah sempat tertinggal satu tahun saat duduk dibangku SMA. Bukan karena tidak mau belajar, Hones saat itu tengah menghadapi persoalan lain yang mengganggu disaat dirinya menjalani ujian.

Baik Culun maupun Hones, keduanya sama-sama memperhatikan (Niteni) disaat jam pelajaran meski intensitas dan kemampuan kognitifnya mereka berbeda terlepas dari pertanyaan apakah mereka berdua memperhatikan selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung di tiap semesternya. Pada kenyataannya mereka berdua beruapaya untuk menirukan (Niroke) setiap ada pertanyaan yang terlontar sesuai dengan harapan gurunya. Begitupula mungkin yang terjadi pada kebanyakan dari kita yang pernah mengenyam dunia pendidikan normal. Tak bisa dipungkiri bahwa kita semua tahu bahwa pendidikan formal bukan jaminan mutlak untuk bisa meraih hidup sukses.

Ada hal yang sering kita abaikan, bahwa baik itu Guru, Siswa, dan Orangtua melupakan terhadap pentingnya menambahkan suatu ide yang itu muncul dari diri kita. Kita hanya bisa memperhatikan dan meniru tapi lupa menambahkan. Sehingga bangsa kita juga dikenal orang sebagai bangsa Peniru dan sedikit yang menciptakan ide-ide kreatif untuk turut mengembangkan ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Bila kita perhatikan, betapa banyak produk asing yang ada di negara kita berlabelkan asing yang “branded” merambah negeri kita hanya karena kita termakan oleh yang namanya “gengsi”. Sehingga sampai plakat iklan pun menggunakan istilah asing.

Ki Hajar Dewantoro sebagai salahsatu pahlawan tokoh pendidikan yang merumuskan ide “Niteni Niroke Nambahi” perlu kita tinjau ulang untuk kita perbaiki maksud beliau dengan menerjemahkannya secara bijak terutama di dunia pendidikan saat ini yang membutuhkan terobosan pengetahuan. Kita mungkin seringkali lupa dengan maksud nambahi. Tidak ada salahnya bila kita memperhatikan sesuatu yang baik, akan tetapi tidak juga hanya sebatas menirukan apa yang sudah orang lain cetuskan atau lontarkan sementara kita lupa untuk menambahkan dari ide-ide kreatif yang muncul untuk kita jadikan sebagai bahan acuan untuk memperkokoh apa yang kita yakini kebenarannya. Bila kita menambahkan dari apa yang sudah kita perhatikan dan tiru tentunya akan banyak muncul ide-ide kreatif yang baru yang hanya muncul dari proses berfikir (otak) kita.

Pada akhirnya mari kita perhatikan, amati dan tiru apa-apa yang sudah dilakukan, diciptakan, dikaryakan, dicetuskan orang lain. Tapi jangan lupa mari kita bersama-sama pula memperbaiki “habit forming” tersebut dengan memberikan tambahan sebaik-baiknya tanpa harus sempurna sebagai suatu kebenaran dan bukannya pembenaran pada setiap tambahan materi yang kita berikan.

Semoga Sukses…!

www.yudi2519@yahoo.com

2 Tanggapan

  1. memang benar, pendidikan bangsa kita bisanya cuma “meniru” apa itu KBK, KTSP,dll..ternyata kalau ditelusuri semua lebih berkaca pada pendidikan di barat.. pengennya pendidikan kita seperti itu, tapi karena hanya meniru, tidak “nambahi” ya jadinya seperti sekarang. pendidikan kita kehilangan ruh yang sebenarnya. saya sepakat ketika pendidikan kita justru berdasar pada nilai-nilai ajaran islam. habith forming, mestinya lebih ditekankan daripada hanya sekedar “teori”. pendidikan dengan perilaku/ tindakan/ amal yang kontekstual justru akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan jiwa, pikiran maupun akhlak siswa. so…kembalilah kepada pesan ki Hajar Dewantara “jadikan siapa saja yang kita jumpai sebagai guru”, plus 3N itu..juga perlu.ok sukses untuk SDIT Salsabila. jangan kehilangan ruh sebenarnya..!

  2. bagus pemikiran abang, yuk bagaimana itu dibudayakan paling tidak dari kita dulu merambah yang paling dekat dengan kita trus merambah yang lebih luas, ayo maju terus pegiat spa, luruskan niat kuatkan imamat, ……… !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: