Dongeng dan Mental Bangsa

Oleh: Sabrur Rohim, S.Ag.

Merenungi Yogyakarta, penulis ingin mengaitkannya dengan kelompok musik Wayang dan dongeng. Lho, apa hubungannya? Sepintas barangkali memang sulit dicari hubungannya. Akan tetapi jika sedikit jeli dan reflektif, ada saja hubungannya, dan mungkin saja cukup signifikan. Penulis ingin coba menghubungkannya dalam dua hal yang saling
berkaitan saja: pertama, salah satu judul lagu grup musik Wayang adalah “Dongeng Sebelum Tidur”; kedua, Yogyakarta adalah tempat bercokolnya banyak pendongeng untuk kalangan anak-anak, khususnya di lingkungan pengajian anak-anak (TPA), misalnya: Kak Bimo Suryono, Kak We Es, dll.

Ada yang menarik kenapa dalam lagu “Dongeng Sebelum Tidur” grup musik Wayang mengambil kancil sebagai lakon, sebagai pahlawan. Tentu bukan karena persoalan tidak ada tokoh lain—sehingga terkesan kurang kreatif, melainkan mungkin lebih mempertimbangkan faktor kultural keindonesiaan secara menyeluruh. Dalam budaya dongeng di negeri ini,
tokoh utamanya memang selalu merujuk pada kancil. Binatang yang terkenal `cerdas’ ini memang telah menjadi pahlawan bagi setiap anak Indonesia, dari generasi ke generasi, semenjak zaman nenek buyut kita hingga zaman modern dan serba teknologi seperti sekarang. Faktor inilah, mungkin, yang coba dibetot oleh sang komponis Wayang untuk menjadikan lagunya populer dan langsung memikat hati pendengar Indonesia.

Hanya saja, yang layak direnungkan bersama-sama adalah ketidaksadaran kita perihal adanya hubungan erat antara dongeng dalam budaya tertentu dengan mental masyarakatnya. Betapa pun, dunia dongeng sebelum tidur, cerita anak, dan lain sejenisnya, audiens utama dan pertamanya adalah anak-anak. Padahal, anak-anak adalah generasi
penerus, yang akan menjadi pemimpin bangsa di waktu-waktu mendatang. Sampai di sinilah, menurut hemat penulis, Yogyakarta menjadi signifikan dengan dunia cerita anaknya, khususnya yang terartikulasi melalui kiprah para pendongeng pengajian anak-anak (TPA). Tetapi, keunikan ini dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting, yakni sejauh mana muatan-muatan dongeng (cerita anak) memiliki kontribusi besar bagi pembentukan karakter generasi bangsa di masa mendatang.  Idealisasi seperti itu tidaklah bisa dianggap remeh dan dilihat sebelah mata. Mungkinkah muatan cerita anak memiliki signifikansi yang begitu besar, sampai harus dikaitkan dengan masa depan suatu bangsa atau negara segala? Silakan saja pertanyaan seperti itu dikedepankan, bahkan meski dengan maksud meremehkan. Akan tetapi, secara historis, munculnya istilah n-Ach yang sangat kesohor itu, kalau kita mau tahu, justru berkaitan erat dengan wacana dongeng dan cerita anak.

Pada tahun 1972, Ismail Marahimin, yang kini menjadi dosen sastra UI Depok (Jakarta) diminta oleh majalah Titian, terbita USIS, untuk menerjemahkan artikel David McClelland, “The Need for Achievement.” Marahimin mengindonesiakannya sebagai “Kebutuhan Berprestasi.” Dalam artikel tersebut, McClelland mempersoalkan kenapa pelbagai bangsa memiliki karakter yang berbeda-beda, bahkan ada di antaranya yang bertolak belakang satu sama lain; ada bangsa tertentu yang rakyatnya maju, ada bangsa lain yang terbelakang; ada bangsa yang suka bekerja keras, ada juga bangsa yang lebih suka bermalas-malas.

McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke 16. Dalam perkembangan selanjutnya, Inggris menjadi negara maju, sementara Spanyol, sebaliknya, mengalami kemunduran yang mengenaskan. Mengapa terjadi begitu? Apa sebab yang mendasarinya?

Pertanyaan ini sangat mengusik McClelland. Seluruh semak telah disibak, rumput-rumput juga telah dipangkas, tetapi McClelland tidak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Akhirnya dia melirik pada satu hal yang kurang diperhatikan orang: dongeng. Kelihatannya, kata McClelland, dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada awal abad 16 mengandung semacam “virus” yang menyebabkan pendengarnya dijangkiti penyakit “butuh berprestasi”, the need for achievement—yang kemudian disimbolkan sebagai n-Ach yang sangat terkenal itu. Virus n-Ach itu, menurut McClelland, meliputi tiga unsur, yakni: 
(1) optimisme yang tinggi;
(2) keberanian untuk mengubah nasib; dan
(3) sikap tidak gampang menyerah.

Tiga unsur ini tidak ada dalam dongeng-dongeng Spanyol di abad 16; muatan-muatannya lebih banyak meninabobokkan, “virus” n-Ach itu tidak ada sedikit pun. Dalam buku, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, karya Arief Budiman (Gramedia, 1995), dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk meyakinkan dirinya atas penemuan tersebut, McClelland melakukan riset sejarah.

Ia mengumpulkan dokumen-dokumen sastra dari zaman Yunani kuno seperti puisi, naskah drama, pidato penguburan, surat para nahkoda kapal, kisah epik, dan lain sebagainya. Karya-karya tersebut dinilai oleh para ahli yang netral, apakah di dalamnya mengandung semangat n-Ach yang tinggi, atau sebaliknya, kurang, atau bahkan tidak ada sama sekali.

McClelland juga mengumpulkan lebih dari 1300 cerita/dongeng dari pelbagai negara, dari era 1925-1950an. Setelah dikaji dan diselidiki, hasilnya menunjukkan bahwa cerita-cerita anak yang mengandung nilai n-Ach yang tinggi pada suatu negeri, selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula di negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Walhasil, dari kacamata McClelland kita barangkali bisa mencermati jawaban kenapa mental KKN, misalnya, sangat identik dengan budaya masyarakat kita, dari tingkat bawah sampai ke atas, dari orang biasa sampai pejabat negara. Mental seperti ini tentu saja akar psikologisnya adalah sifat-sifat seperti cerdik, licik, dan suka menipu yang merujuk pada figur populer kancil dalam dongeng kita, yang telah berkembang selama lebih dari berpuluh-puluh tahun silam.

Kak We Es, Kak Bimo, dll, sebagai orang-orang garda depan di dunia dongeng anak-anak, tentu menghadapi pertanyaan besar dalam konteks ini, yakni sejauh manakah muatan-muatan cerita yang disampaikan ke
audiens anak-anak mengandung nilai n-Ach yang tinggi. Sangat naif dan ironis—sebagaimana yang menggejala secara umum sekian lama ini—bahwa, maaf, yang lebih ditonjolkan adalah unsur-unsur mistik (horor), “sim-salabim” (instan), fantasi, kengerian skatologis, dan semacamnya, yang tentu saja kontras dengan tiga unsur yang diandaikan dalam n-Ach McClelland: optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak gampang menyerah.

Tidak hanya dunia dongeng lisan, tetapi dunia penerbitan buku cerita anak di Yogyakarta (terutama lembaga penerbitan) juga memikul amanat demi menjawab pertanyaan tersebut. Distribusi buku-buku anak dari Yogyakarta juga tidak sebatas satu dua kota di Jawa saja, tetapi seluruh pelosok Jawa, bahkan juga ke seluruh Nusantara. Ini artinya, dampaknya bersifat nasional. Sebab, buku-buku tersebut akan dibaca oleh anak-anak di pelbagai pelosok negeri, dibacakan oleh para guru di sekolah, diceritakan oleh para orangtua menjelang tidur buah hati mereka, dari waktu ke waktu. Sangat tragis jika para orangtua, para guru terjebak di dalam ketidaksadaran, ketidaktahuan, apakah buku-buku yang mereka bacakan kepada anak didik mereka, kepada buah hati mereka, mengandung nilai n-Ach yang tinggi atau tidak.

Oleh karena itu, dalam konteks ini menjadi penting bagi orangtua, para guru, untuk memilih buku-buku cerita yang berkualitas. Mereka harus bisa membedakan, mana yang mengandung muatan nilai/pesan n-Ach yang tinggi, dan mana yang rendah atau malah tidak ada sama sekali nilai n-Ach-nya. Sebab, betapa pun, orangtua dan guru punya peran utama dalam menentukan bacaan bagi anak-anaknya; tidak mungkin anak menentukan sendiri tanpa bimbingan orangtuanya. Orangtua dan guru memiliki peran penting nan strategis untuk membentuk ketahanan anak, baik di lingkup sekolah, maupun di dalam keluarga (rumah). Tentu saja tidak hanya soal bacaan, namun juga media-media cerita lain seperti tayangan televisi, film-film, dan sejenisnya, karena di era teknologis seperti sekarang media cerita tidak hanya melalui buku.

Muatan nilai moral dalam dongeng anak, dalam buku-buku cerita anak, atau persisnya: tinggi rendah nilai n-Ach-nya, tidak akan kita lihat dampaknya dalam hitungan satu atau dua tahun mendatang, tetapi—merujuk MacClelland—dalam 25 tahun mendatang. Dengan kata lain, jika 25 tahun mendatang generasi kita lebih banyak yang bermental maling, kriminal, malas-malasan, hura-hura, fatalistik, dll, dan lebih sedikit yang kreatif, yang pantang menyerah, yang optimis, yang pemberani, dan seterusnya, maka para pendongeng, lembaga penerbitan, penulis cerita anak, para guru dan apalagi orangtua, memiliki “andil” yang besar, atau dengan kata lain, merekalah yang bertanggung jawab terhadap dosa sejarah tersebut. Oleh karena itu, semenjak detik ini pula, mereka semua dihadapkan pada tugas besar lagi suci mulia, yakni merasukkan nilai n-Ach dalam dunia cerita (dongeng), dunia tutur-
tinular, baik dalam maknanya yang teoretis maupun yang praktis.

Namum demikian, dalam konteks ini, menyangkut tiga hal yang menjadi ukuran tinggi-rendahnya nilai n-Ach—sebagaimana diandaikan McClelland—tidaklah bersifat mutlak, artinya tidak harus demikian persis, melainkan bisa disesuaikan dengan nilai-nilai moral-etik yang berkembang di dalam budaya kita, sesuai dengan kearifan lokal (local-wisdom) kita sendiri. Misalnya, sebagai bangsa Indonesia, kita bisa merasukkan sikap-sikap semacam: patriotis dan berani membela yang benar—sebagaimana tecermin dalam simbol bendera pusaka, solidaritas sosial—sebagaimana tersirat dari sila keadilan sosial dalam Pancasila, toleransi budaya—sebagaimana terekspresi dalam semangat “Bhineka Tunggal Ika”, dan seterusnya.

Dengan model kerja kultural seperti itulah, yang didukung oleh pelbagai pihak, dan terutama para orangtua di lingkungan keluarga,
insya Allah kita bisa menciptakan generasi-generasi mendatang yang tidak hanya memiliki integritas moral yang bagus, tetapi juga
memiliki integritas dan wawasan kebangsaan yang dapat diandalkan.

Sehingga, pada gilirannya nanti, generasi-generasi kita bukan saja mampu memanaj tindakan dalam koridor-koridor etik-universal, tetapi juga bisa menjadi filter bagi tumbuh-kembang budaya dan nilai-nilai kebangsaan yang adilihung. Semoga saja. Amien.

Wallahu a’lam.***

7 Tanggapan

  1. salam.
    saya dr trans tv,bolehkah sayaminta CP Kak Bimo?
    no saya: 08154652xxxx

    terima kasih

    ~~~~~
    CP kak Bimo kami send via HP saya. Trim’s (admin)

  2. aku senang dapat artikel dari google. sangat membantuku untuk menulis artikel. thanks.semoga yang kutulis bisa bermanfaat untuk semua. amin

  3. Kak Sabrur Rohim. NAma saya Riya. Saya sekarang sedang menulis artikel tentang sekolah imajinasi dan peranannaya dalam pembentukan karakter bangsa. Saya mau tanya kepada kakak tentang pengaruh dongeng pada kakak. Apakah kakak pernah merasakan karena pengaruh sebuah cerita, kakak bisa melakukan apa saja? Atau dalam kata lain, sepertui yang dikatakan Mclelland kakak mendapatkan nila N-Ach yang tinggi?
    Kak, kutunggu jawaban kakak sampai besok karena senin artikel saya harus selesai. Terimakasij. kirim di email saya,ya kak.

  4. nila N-Ach? maeman opo yo kuwi? please gimmi a clue ya mbak nila…

  5. ups…oh ya..aku dah tau!

  6. halo fren…..salam dari kediri

  7. Salam balik juga. Sultan siapa ya? Aku lupa. Ini kontak saya, gusbroer@gmail.com, http://www.gusbroer.wordpress.com, hp 0813 2868 4038

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: